Pendahuluan Dalam Bahasa Sanskerta, caru
artinya cantik, indah, harmonis; dalam Bahasa Kawi, caru artinya kurban.
Sebagai kata kerja, mecaru artinya menghaturkan kurban untuk
memperindah dan mengharmoniskan sesuatu. Dalam arti yang lebih tegas,
mecaru adalah suatu upacara kurban yang bertujuan untuk mengharmoniskan
bhuwana agung dan bhuwana alit agar menjadi baik, indah, lestari.
Dengan demikian, upacara mecaru adalah aplikasi dari filosofi
Trihitakarana, seperti yang disebutkan dalam
Lontar Pakem Gama Tirta,
agar terjadi keharmonisan dalam hubungan antara manusia dengan
Sanghyang Widhi (Parhyangan), hubungan antara manusia dengan sesama
manusia (Pawongan) dan hubungan antara manusia dengan alam (Palemahan).
Upacara pecaruan ada yang dilakukan dalam bentuk kecil sehari-hari, disebut
Nitya Karma, sedangkan upacara pecaruan disaat tertentu (biasanya lebih besar) disebut
Naimitika Karma.
Jenis-jenis Caru dan Tawur Lontar Dewa Tattwa membedakan jenis-jenis Caru dan Tawur sebagai berikut:
- Yang diadakan bila ada kejadian tertentu misalnya: bencana, bencana
alam, hama penyakit, gerhana matahari, huru-hara, perang, dll.
- Yang diadakan: sehari-hari, hari tertentu, sasih (bulan) tertentu, dan warsa (tahun) tertentu.
- Yang diadakan disuatu tempat: pekarangan, rumah, pura, sanggah,
Banjar, Desa, seluruh pulau (Bali), seluruh dunia, danau, laut, hutan,
gunung, dll.
- Mengikuti upacara pokok Panca Yadnya.
Dalam Lontar Dewa Tattwa dibedakan pula antara
Caru dan
Tawur.
Yang termasuk Caru: Ekasata, Pancawarna, Pancasata, Pancasanak,
Pancanak-madurga, Ngeresigana. Yang termasuk Tawur: Manca Kelud, Balik
Sumpah, Tawur Gentuh, Mancawalikrama, Ekabhuwana, Tribhuwana,
Ekadasarudra.
Mitologi Bhutakala menurut Lontar Bhumi Kemulan dan Lontar Siwa Gama
Sebelum membahas seluk beluk upacara Pecaruan dan upacara Tawur,
terlebih dahulu perlu diketahui asal mula keberadaan Bhutakala, karena
upacara Pecaruan dan upacara Tawur bertujuan untuk
nyomia (mensucikan) bhuta.
Bhuta, artinya sesuatu yang sudah ada;
Kala, artinya kekuatan atau energi. Penggunaan istilah sering disatukan sebagai
Bhutakala, ada juga hanya
Bhuta, dan ada juga hanya
Kala.
Namun esensi ketiganya sama. Keberadaan Bhutakala awalnya karena
Bhatara Siwa ingin mencipta alam semesta. Dalam hal ini Bhatara Siwa
mempunyai lima putra, yang disebut
Panca Korsika. Mula-mula Ia mengutus keempat putra-Nya yaitu:
Sang Korsika, Sang Garga, Sang Maitridan
Sang Kurusya,
namun mereka gagal menjalankan tugas. Karena gagal, keempat putra
Bhatara Siwa itu dikutuk menjadi Bhutakala. Kemudian Bhatara Siwa
meminta putra-Nya yang kelima bernama
Sang Pretanjala untuk mengambil alih tugas saudara-saudara-Nya itu. Sang Pretanjala mohon agar Ia dibantu oleh Ibu-Nya:
Dewi Uma. Permintaan ini dikabulkan oleh Bhatara Siwa. Maka Dewi Uma dan Sang Pretanjala berhasil menciptakan
Bhuwana Agung:
pertiwi, apah, bayu, teja, akasa, yang disebut
Panca Mahabhuta, dan mahluk-mahluk halus. Mahluk-mahluk halus ini ada tiga jenis, yakni yang baik misalnya:
widyadara-widyadari, gandarwa, dan kinara. Yang tidak baik misalnya:
raksasa, denawa, pisaca, daitya. Yang ketiga adalah mahluk halus yang derajatnya rendah misalnya:
tonya, memedi, bregala-bregali. Dewi Uma kemudian menjelma menjadi Bhatari Durgha dan memecah diri-Nya menjadi lima yakni:
- Sri-Durgha, berkedudukan di timur. Ia menciptakan: Kalika-Kaliki, Yaksa-Yaksi, Bhuta Dengen.
- Dhari-Durgha, berkedudukan di selatan. Ia menciptakan: Bhuta Kapragan.
- Suksmi-Durgha, berkedudukan di barat. Ia menciptakan: Kamala-Kamali, Kala Sweta.
- Raji-Durgha, berkedududkan di utara. Ia menciptakan: Bregala-Bregali, Bebai.
- Durgha, berkedudukan di tengah-tengah. Ia menciptakan: Bhuta Janggitan di timur, Bhuta Langkir di selatan, Bhuta Lembu Kaniadi barat, Bhuta Taruna di utara, Bhuta Tiga Sakti di tengah-tengah, Bhuta Lambukan di tenggara, Bhuta Hulu-Kuda dan Bhuta Jinggadi barat daya, Bhuta Ijo di barat laut, dan Bhuta ireng di timur laut.
Melihat Dewi Uma menjadi Bhatari Durgha, maka Sang Pretanjala ikut berubah menjadi
Mahakala.
Ia berkedudukan di tengah-tengah bersama Ibu-Nya dan ciptaan awal
mereka: Panca Mahabhuta. Ia mengajak keempat saudara-Nya yang sudah di
kutuk menjadi Bhutakala dan memberikan kedudukan kepada mereka
masing-masing sebagai berikut: Korsika di timur, Garga di selatan,
Maitri di barat, dan Kurusya di utara.
Bhutakala yang diciptakan oleh Bhatara Siwa sehubungan dengan kelahiran manusia, menurut Lontar Tutur Kandapat Ketika terjadi pertemuan antara
kama bang dengan
kama petak(pembuahan) didalam rahim wanita, embrio (jabang bayi) ditemani oleh
Kandapat yang bertugas memelihara dan membesarkan bayi. Kandapat itu bernama Kandapat Rare, terdiri dari
Karen, Bra, Angdian dan
Lembana. Setelah embrio berusia 20 hari Kandapat itu bernama
Anta, Preta, Kala, Dengen. Setelah bayi berusia 40 minggu dalam kandungan, Kandapat bernama:
Ari-Ari, Getih, Lamas, Yehnyom. Setelah bayi lahir dan setelah talipusarnya putus, Kandapat bernama:
Mekair, Salabir, Mokair, Selair. Ketika bayi mulai belajar berbicara, Kandapat Rare berubah menjadi
Kandapat Bhuta, bernama:
Anggapati, Mrajapati, Banaspati, dan
Banaspati Raja. Anggapati yang berasal dari
pertiwi (tanah) berkedudukan di timur, Mrajapati yang berasal dari
apah (air) berkedudukan di selatan, Banaspati yang berasal dari
teja (matahari) berkedudukan di barat, dan Banaspati Raja yang berasal dari
bhayu (angin) berkedudukan di utara.
Bhutakala
yang diciptakan oleh Bhatara Siwa untuk menguji manusia dalam
menghadapi Hari Raya Galungan, menurut Lontar Sri Jayakasunu Pada hari Redite, Paing, Dungulan, diturunkan
Bhuta Amangkurat. Pada Soma, Pon, Dungulan,
Bhuta Dungulan, dan pada Anggara Wage, Dungulan,
Bhuta Galungan.
Bhutakala yang menguasai sasih (bulan), menurut Lontar Bhumi Kemulan, Lontar Siwa Gama, dan Lontar Tutur Lebur Gangsa Ke|Nama Sanskrit|Nama Bali|Bhutakala yg menguasai
1|Srawana|Kasa|Bhuta Bregala 2|Bhadrawada|Karo|Bhuta Amangkurat
3|Asuji|Katiga|Kala Prayogi 4|Kartika|Kapat|Kala Wigraha Bhumi
5|Margasira|Kalima|Kala Mangsa 6|Posya|Kanem|Kala Semayapati
7|Magha|Kapitu|Kala Ngadang Semaya 8|Palguna|Kawolu|Kala Dengen
9|Caitra|Kasanga|Kala Rogha 10|Waisaka|Kadasa|Kala Wijaya
11|Dyestha|Mala|Kala Solog 12|Asadha|Mala|Kala Banaspati
Catus Pata (Lontar Dewa Tattwa dan Lontar Eka Pratama)
- Trimurti menugaskan para Sulinggih-Sulinggih berpaham Siwa,
Waisnawa, dan Bodha untuk “nyomia” Bhutakala melalui upacara/upakara
Caru atau Tawur.
- Sebelum nyomia para Bhutakala para Sulinggih memohon agar Bhatari
Durga berkenan kembali menjadi Dewi Uma dan Mahakala kembali menjadi
Pretanjala. Untuk ini dihaturkan banten jangkep yang ada di panggungan.
- Catus Pata dipilih sebagai tempat pelaksanaan Tawur (terutama pada
Tawur Kesanga) karena di Catus Pata – lah mula pertama Dewi Uma berubah
menjadi Bhatari Durga serta mencipta wateking Bhutakala tersebut, dan di
Catus Pata pula Sang Pretanjala berubah menjadi Mahakala
- Di zaman lampau Catus Pata ditetapkan oleh Raja atas saran Bhagawanta. Kini bagi Desa-Desa Pakraman yang baru,penetapan Catus Pata dilakukan oleh perarem Desa Pakraman setelah mendapat saran dari seorang Sulinggih.
Mepepada (Manawa Dharmasastra V.31, Lontar Dharma Caruban, Lontar Tutur Lebur Gangsa) Yajnaya jagdhir mamsasye, tyesa daivo vidhih smrtah, ato ‘nyatha pravrttistu raksaso vidhir ucyate. Pemakaian
daging adalah wajar untuk upacara kurban, hal mana dinyatakan sebagai
peraturan yang dibuat oleh Dewa, tetapi jika memaksa memakainya dalam
kejadian lain adalah peraturan yang cocok untuk para raksasa.
- “Peraturan yang dibuat oleh Dewa” dituangkan dalam Lontar
Dharma Caruban dan Lontar Tutur Lebur Gangsa dalam bentuk upacara
mepepada, yang diadakan di Pura Desa setempat sebagai linggih Bhatara
Brahma.
- Semua beburon sebelum diupacarai dimandikan terlebih dahulu kemudian
dikenakan kain menurut warna pengider disertai kalungan uang kepeng
manut urip.
- Alat-alat yang ikut diupacarai: blakas, golok, taledan, lumpyan,
pane, lesung, tungku, talenan, payuk, ilih, siut, sendok, katikan sate,
cubek. Juga disertai lakar base genep.
Penggunaan hewan dalam Caru dan Tawur (Lontar Sudamala dan Lontar Kala Tattwa)
- Ayam manca warna, masing-masing untuk: putih – Bhuta Janggitan,
biying – Bhuta Langkir, siungan – Bhuta Lembu Kania, hitam – Bhuta
Taruna, brunbun – Bhuta Tiga Sakti
- Ayam biying kuning, untuk Bhuta Jingga **)
- Ayam ijo, untuk Bregala-Bregali, Bebai
- Ayam Ijo, untuk Bhuta Ijo ***)
- Ayam klawu, untuk Bhuta Ireng ****)
- Ayam wangkas, untuk Bhuta Lambukan *)
- Angsa putih, untuk Korsika
- Asu bang bungkem, untuk Bhuta Hulu Kuda
- Banteng, untuk Bhuta Ijo ***)
- Bawi palen,untuk Mahakala
- Bebek belang kalung, untuk Panca Mahabhuta
- Bebek bulu sikep, untuk Bhuta Lambukan *)
- Godel, untuk: Gargha, Kapragan, Mrajapati.
- Kambing coklat/kuning, untuk Maitri, Kamala-Kamali, Kala Sweta, Banaspati
- Kambing coklat, untuk Bhuta Jingga **)
- Kambing selem, untuk Kurusya, Bnaspati Raja
- Kambing sewarna, untuk tapakan Bhatara Di Sanggar Tawang
- Kebo yusmerana, untuk Bhuta Ireng ****)
- Kidang, untuk Kalika-Kaliki, Yaksa-Yaksi, Dengen, Anggapati
- Manjangan, untuk Bhuta Ijo ***)
- Penyu (punggalan), sampelan kebo, sampelan kambing, untuk pelengkap catur niri
(Tanda bintang artinya ada Bhuta yang sama memerlukan beberapa binatang kurban untuk di-“somya”)
Olahan hewan (beburon) menurut Lontar Dharma Caruban
- Kinelet melayang-layang: kepala, kaki, ekor, dan kulit utuh
- Winangun urip: letak hewan tertelungkup dan ada unsur-unsur tulang rusuk, tulang punggung, tulang kaki dan tulang ekor
- Urab/Reramesan barak dan putih: berisi daging, lidah, hati, lemak, kulit, darah (kalau reramesan barak)
- Getih matah: darah segar yang ditampung di sebuah kau ketika menyembelih hewan, diiisi lontar nama hewannya
- Sate (jejatah) lembat, asem, dan calon disebut Trinayaka sebagai
persembahan tubuh hewan termaksud yang suci dengan aksara Ang – Ung –
Mang
- Gayah: punggalan bawi, winangun urip, mejatah katikan sanjata Dewata
Nawa Sanggha, ditambah mejatah katikan-katikan: bagia, orti, surya,
candra, tunjung, cempaka, pidpid, sapudaki, konta, japit dumi,
oret-oret, satuh, don, jerimpen, ancak, penyeneng, sandat, endongan,
satuh, bingin.
Bahan-bahan Upakara dalam Pecaruan (Lontar Sudamala)
- Bahan-bahan upakara dalam pecaruan terdiri dari tiga jenis: Mataya,
Mantiga dan Maharya. Ephos Mahabharata menyebutkan, Mataya, Mantiga dan
Maharya sebagai penganti kurban (caru) manusia. Ketika itu Duryodana
menginginkan kurban kepala Panca Kumara (putra-putra Pandawa) tetapi
olehAswatama Panca Kumara diganti dengan Mataya, Mantiga dan Maharya.
Pengganti tulang-belulang manusia adalah anyaman “sengkui”
- Mataya adalah bahan dari tumbuh-tumbuhan: daun, bunga, buah, pohon, biji-bijian, umbi-umbian, arak, tuak, berem.
- Mantiga adalah hewan yang lahir dua kali (melalui telur): ayam, bebek, angsa, burung.
- Maharya adalah hewan yang lahir satu kali (tidak melalui telur) dan berkaki empat: babi, sapi, kerbau, kambing, anjing
- Penempatan hewan caru mengacu pada kedudukan Panca Korsika dan
Bhuta, disesuaikan dengan warna bulu hewan itu. Hal ini juga disebutkan
dalam ephos Mahabharata, ketika Dewi Kunti hendak mengorbankan Sahadewa
untuk “nyupat” Panca Korsika.
Makna simbol warna dalam Upacara Pecaruan (Lontar Dewa Tattwa)
- Warna-warna: bulu hewan, kober, tumpeng, kelungah, dangsil,
sanganan, nasi, beras, bunga, benang, dll mengikuti warna pengider:
sweta (putih), dumbra (merah muda), rakta (merah), rajata (oranye), pita
(kuning), syama (hijau), kresna (hitam), biru (abu-abu), dan sarwa
suwarna (campuran)
- Warna-warna itu selain sebagai identitas Dewa-Dewa yang menjaga
keseimbangan, juga sebagai simbol berbagai sifat yang ada dalam diri
manusia: putih: suci; merah-muda: kesucian yang ternoda oleh kemarahan;
merah: marah; oranye: marah karena nafsu tak terpenuhi; kuning: nafsu;
hijau: serakah; hitam: iri-hati; abu-abu: iri-hati yang terselubung.
- Dari 9 warna yang ada, hanya 1 (warna putih) sebagai simbol sifat
baik yang bisa dikalahkan oleh warna lain simbul keburukan. Oleh karena
itu warna putih dibanyakkan dengan tepung beras yang dirajah pada banten
Rsi Gana.
- Dengan demikian sifat-sifat buruk manusia diusahakan di-”somiya”
melalui pecaruan sehingga Asuri Sampad (sifat keraksasaan) dapat berubah
menjadi Daiwi Sampad (sifat kedewataan)
Urip/Neptu dalam pe-caruan/tawur (Lontar Warigha Bhagawan Gargha)
- Urip/neptu artinya: hidup, baik, lancar mencapai tujuan. Berkaitan
dengan dewasa atau waktu yang mempunyai pengaruh besar pada alam semesta
(bhuwana agung) serta menuntun manusia menuju hidup yang harmonis,
bahagia, sejahtera.
- Penggunaan urip/neptu pada caru dasarnya adalah panca wara, karena
sesuai dengan mitologi panca korsika, yakni: umanis urip 5 di timur,
paing urip 9 di selatan, pon urip 7 di barat, wage urip 4 di utara, dan
kliwon urip 8 di tengah. Jumlah urip panca wara = 33 juga sesuai dengan
jumlah Dewa menurut Sathapatabrahmana dimana para Dewa diyakini berperan
menjaga keselamatan bhuwana agung.
- Penggunaan urip/neptu pada tawur dasarnya membentuk padma bhuwana
(lingkup bhuwana agung menurut pengider-ider) maka digunakan astawara,
dimana urip panca wara diatas ditambah dengan: guru urip 8 di tenggara,
rudra urip 3 di barat daya, kala urip 1 di barat laut dan sri urip 6 di
timur laut. Jumlahnya = 18 dimana secara matematis total digit: 1 + 8 = 9
(jumlah pengider-ider dewata nawa sanggha)
- Urip/neptu tersebut digunakan dalam banten caru/tawur untuk antara lain jumlah: tumpeng, reramesan, sate, tangkih, jinah, dll.
Tabuh Rah (Lontar Siwa Tattwa Purana) “…..mwah ring tileming kesanga, hulun megawe yoga, teka wang ing madyapada magawe tawur kasowangan, den hana pranging sata, wenang nyepi sadina ika labain sang Kala Dasa Bhumi; yanora samangkana rug ikang ning madhyapada………”
Syarat-syarat tabuh rah menurut kesimpulan komisi 2 seminar kesatuan
tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu tahun 1976 di Denpasar:
- Diadakan sekitar area caru/tawur, bertepatan dengan upacara.
- Sabungan ayam 3 seet (ronde) semuanya setelah itu disambleh
- Diikuti dengan adu buah kelapa, telur bebek dan tingkih 3 kali
- Ada “toh” namun tanpa unsur judi, artinya kemenangan toh di dana-puniakan kepada penyelenggara caru/tawur
Maka sebaiknya dalam Pecaruan atau Tawur diadakan tabuh rah
berdekatan dengan arena tawur, namun diawasi agar tidak berubah menjadi
tajen. — Sumber:
stitidharma